🎓 IKHTILAF ULAMA BUKANLAH HUJJAH 🎓

image

Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kita agama yang lurus ini, sholawat dan salam semoga tercurah pada manusia terbaik sepanjang zaman, Muhammad shallallahu alahi wa sallam, keluarganya, shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti dengan baik hingga akhir zaman.

amma ba’du

Sebagian orang berhujjah dengan ikhtilaf ulama,untuk membenarkan madzhab dia,
jika dikatakan pada dia :”Hukumnya mencukur jenggot haram misalnya, maka diapun mengatakan :’Ulama berikhtilaf dalam masalah ini untuk membenarkan apa yang dia lakukan ,padahal ikhtilaf bukanlah hujjah syar’iyyah dan tidak ada dalilnya dari alqur’an dan sunnah.

Kata Ibnu Abdilbarr : Ikhtilaf bukanlah hujjah bagi seorangpun sesuai yang saya ketahui dari fuqoha umat ini,kecuali orang yang tidak mempunyai ilmu dan bashiroh,serta tidak memiliki hujjah dalam perkataannya.[ 1]

Kata imam alkhothoby : Ikhtilaf bukanlah sebuah hujjah,tapi sunnahlah sebagai hujjah atas orang yang berbeda pendapat semenjak dahulu sampai sekarang .[2]

Kata imam asy-syathiby :Urusan ini telah melebihi kadar semestinya,sehingga ikhtilaf dijadikan sebuah hujjah untuk membolehkan sesuatu. [3]

Kata imam Ibnu Taimiyyah : Tidak boleh seorangpun untuk berhujjah dengan perkataan salah seorang ulama dalam masalah yang di perselisihkan ,tapi hujjah itu hanyalah nash alqur’an dan sunnah serta ijma’ juga dalil yang diambil dari yang tersebut tadi ,bukan dengan perkataan sebagian ulama ,karena perkataan ulama dijadikan hujjah berdasarkan dalil syar’y bukan dijadikan hujjah untuk menolak dalil syar’y. [4)]
(lihat kitab zajrulmutahawin bi dloror qoidah alma’ziroh wa ta’wun hal.70-71)

Ulama berikhtilaf bukan sebagai pameran yang di pilih sesuai dengan hawa nafsu tapi kita memilih pendapat ulama sesuai dengan hujjahnya yang paling kuat.

Terkadang merekapun mengatakan :
Bukankah Allah berfirman : “Allah menginginkan bagi kalian kemudahan.” Dan juga sabda Rosulullah sallallahu’alahi wasallam : “Permudahlah dan jangan mempersulit.”

Katakanlah pada dia : Kemudahan apakah yang kamu inginkan ..?apakah kemudahan yang sesuai dengan hawa nafsu kamu..? sehingga kamupun bisa memilih keringanan yang sesuai dengan keinginan kamu. ! subhanallah !!

Tapi hal ini bukanlah berarti bahwa setiap yang menyalahi pendapat kita harus diingkari ,ada beberapa point yang harus terpenuhi dalamnya :

1. tidak berdasarkan pada dalil,atau berdasarkan pada dalil tapi sangat
lemah sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.
2. bertentangan dengan dalil yang sahih, gamblang, yang tidak mansukh dan
tidak bertentangan dengan dalil lain yang kuat.

3. menyalahi kesepakatan para ulama (ijma’ ) [5]
artinya jika suatu pendapat berdasarkan suatu dalil yang kuat,atau menyalahi hadits yang sahih tapi tidak gamblang sehingga terjadi perbedaan pendapat tentang maksudnya,atau hadits itu sahih dan gamblang tapi mansukh atau ada dalil kuat lain yang menyalahinya ,maka pada keadaan ini tidak layak kita mengingkari.

Contoh 1 :
keyakinan bahwa Allah bersemayam diatas ‘Arsy, dalilnya sahih bahkan mutawatir ,gamblang ,tidak mansukh dan tidak bertentangan dengan dalil kuat yang lain ,juga para sahabat ,tabi’in serta para ulama ahlussunnah bersepakat (ijma’ ) bahwa Allah bersemayam diatas ‘Arsy ,maka siapa saja yang menyalahi keyakinan ini wajib untuk diingkari.

Contoh 2 :
membaca alfatihah dibelakang imam pada waktu shalat jahr ,Rosulullah sallallahu’Alaihi wasallam bersabda :Tidak sah shalat tanpa membaca alfatiha. Hadits ini sahih dan gamblang tapi ada dalil lain yang memerintahkan agar ma’mum diam ketika imam
membaca keras sehingga ulama berbeda pendapat dalam hal ini,maka tidak layak
kita mengingkari,kecuali pada orang yang berkeyakinan bahwa membaca alfatihah adalah wajib karena beranggapan bahwa itulah yang kuat kemudian dia meninggalkanya secara sengaja.

Contoh 3 :
melafadzkan niat pada waktu hendak shalat ,tidak ada dalilnya dari Rosulullah sallallahu ‘Alaihi wasallam,bahkan para ulama menganggapnya bid’ah ,maka wajib kita ingkari,sebagian mereka beralasankan dengan dalil yang sangat lemah sehingga tidak bisa dijadikan hujjah, bukan disini tempat pembahasannya.

Wallahua a’lam.

Rujukan:
[1] jaami’ bayaan al’ilmi wa fadhlihi 2/229
[2] a’laamulhadiits 3/2092
[3] almuwafaqaat 4/141
[4] majmu’ fatawa ibnu taimiyah 26/202-203
[5] muhadharah syeikh Muhammad bin hadi di kuliah hadits jami’ah islamiyah madinah

Abu Tsabat Al-Faruq

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s