☀ BOLEHKAH MEMBAYAR ZAKAT FITRI DENGAN UANG ??? ☀

image

#bismillah..

Syaikh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah mengatakan:

“Seandainya mata uang dianggap sah dalam membayar zakat fitri, tentu Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam akan menjelaskan hal ini. Alasannya, karena tidak boleh bagi beliau Shallallahu’alaihi wa sallam mengakhirkan penjelasan, padahal sedang dibutuhkan. Seandainya beliau Shallallahu’alaihi wa sallam membayar zakat fitri dengan uang, tentu para sahabat adalah manusia yang paling mengetahui sunnah (ajaran) Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dan orang yang paling bersemangat dalam menjalankan sunnahnya. Seandainya ada d antara mereka yang membayar zakat fitri dengan uang, tentu hal ini akan di nukil sebagaimana perkataan dan perbuatan mereka yang berkaitan dengan syari’at lainnya di nukil (sampai kepada kita -dray).”

[Majmu ‘Fawawa Ibnu Baz, 14/208-211]

Wallahu Ta’ala Alam Bishshawab.

Percayakan pada Allah dan Rasul-Nya, karena qta.. begituu berhargaa🙂

Bisnis Lokal

7 Agustus 2013 pukul 21:29 · Daerah Khusus Ibukota Jakarta · Privasi: Publik

Guntur Tsabat Andryan

DIMANAKAH POSISI ZAKAT FITRI ?

Sebagaimana yang d jelaskan Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah, pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah bahwasannya zakat fitri itu mengikuti prosedur kaffarah. Karena zakat fitri adalah zakat badan dan bukan harta. D antara dalil yang menunjukan bahwa zakat fitri adalah zakat badan dan bukan harta adalah pernyataan Ibn Abbas dan Ibn Umar radhiyallahu’anhuma tentang zakat fitri:

1) Ibn Umar radhiyallahu’anhu mengatakan: “Rasulullah mewajibkan zakat fitri… bagi kaum muslimin, budak maupun orang merdeka, laki2 maupun wanita, anak kecil maupun orang dewasa…”

[HR. Al Bukhari dan Muslim]

2) Ibn Abbas radhiyallahu’anhu mengatakan: “Rasulullah mewajibkan zakat fitri sebagai penyuci orang yang berpuasa dari perbuatan yang menggugurkan pahala puasa dan perbuatan atau ucapan jorok (kotor)…”

[HR. Abu Daud dan d hasankan oleh Syaikh Nasiruddin Al-Albani rahimahullah]

Dua riwayat d atas menunjukkan bahwa zakat fitri statusnya adalah zakat badan dan bukan zakat harta.

Berikut adalah beberapa alasannya:

1) Adanya kewajiban zakat bagi anak2, budak dan wanita. Padahal mereka adalah orang2 yang umumnya tidak memiliki harta terutama budak, jasad dan hartanya semua adalah milik tuannya. Jika zakat fitri merupakan kewajiban harta maka tidak mungkin orang yang sama sekali tidak memiliki harta d wajibkan u/d keluarkan zakatnya.

2) Salah satu fungsi zakat adalah penyuci orang yang berpuasa dari perbuatan yang menggugurkan pahala puasa dan perbuatan atau ucapan jorok. Fungsi ini menunjukkan bahwa zakat fitri statusnya sebagaimana kaffarah u/kekurangan puasa seseorang.

APA KONSEKUENSI HUKUM JIKA ZAKAT FITRI STATUSNYA SEBAGAIMANA KAFFARAH ?

Ada dua konsekuensi hukum ketika status zakat fitri itu sebagaimana kaffarah:

1) Harus d bayar dengan sesuatu yang telah d tetapkan yaitu bahan makanan (makanan pokok, bila d indonesia berarti makanan pokoknya adalah beras -dray)

2) Harus d berikan kepada orang yang membutuhkan u/menutupi hajat hidup mereka, yaitu fakir miskin, sehingga tidak boleh d berikan kepada amil, muallaf, budak, masjid dan golongan yang lainnya.

[Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah 25/73]

Wallahu a’lam.

Disunting · Suka · 4 · Sunting · 7 Agustus 2013

Guntur Tsabat Andryan

Jumhur ulama (mayoritas ulama) ahlussunnah wal jama’ah menghukumi tidak bolehny membayar zakat fitri dengan selain bahan makanan.

PENDAPAT YANG MELARANG PEMBAYARAN ZAKAT FITRI DENGAN UANG.

Pendapat ini merupakan pendapat yang d pilih oleh mayoritas ulama, mereka mewajibkan pembayaran zakat fitri menggunakan bahan makanan dan melarang membayar dengan mata uang.

D antara ulama yang berpegang kepada pendapat ini adalah: Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad. Bahkan Imam Malik dan Ahmad secara tegas menganggap tidak sah membayar zakat fitri menggunakan mata uang.

Wallahu a’lam bishshawab.

Saran ana mendekatlah kepada sunnah insyaAllah ia lebih selamat..

Disunting · Suka · 4 · Sunting · 7 Agustus 2013

Guntur Tsabat Andryan

# Lanjut :
BERIKUT ANA NUKILKAN PERKATAAN ULAMA YANG MELARANG PEMBAYARAN ZAKAT FITRI DENGAN UANG

PERKATAAN IMAM MALIK.

Imam Malik rahimahullah mengatakan:

“Tidak sah seseorang yang membayar zakat fitri dengan mata uang apapun. Tidak demikian yang d perintahkan Nabi.”

[Al-Mudawwanah Syahrun]

Beliau juga mengatakan:

“Wajib menunaikan zakat fitri satu sha’ bahan makanan yang umum d negeri tersebut pada tahun itu (tahun pembayaran zakat fitri).”

[Ad Din Al Khas]

PERKATAAN IMAM ASY SYAFI’I

Iman Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan:

“Wajib dalam zakat fitri dengan satu sha’ dari umumnya bahan makanan tahun tersebut.”

[Ad Din Al Khas]

PERKATAAN IMAM AHMAD

Abu Daud mengatakan:

“Imam Ahmad rahimahullah d tanya tentang pembayaran zakat menggunakan dirham, beliau menjawab: “Aku khawatir zakat ny tidak d terima, karena menyelisihi sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.”

[Masail Abdullah bin Imam Ahmad, d nukil dalam Al-Mughni 2/671]

Dlahir Madzab Imam Ahmad bahwasannya beliau berpendapat tidak sah-nya membayar zakat fitri dengan nilai mata uang.

Al kiraqi mengatakan:

“Siapa yang menunaikan zakat menggunakan mata uang maka zakatnya tidak sah.”

[Al Mughni Ibn Qudamah]
`
Seorang yang mencintai kekasihny niscaya akan cenderung mengikuti perkataannya, begitupun orang yang mencintai Rasul-Nya niscaya akan tunduk terhadap ucapan dan selalu berusaha u/mencontoh akan setiap perbuatannya. Bukan begitu bukan ?? hehe..🙂

Simak nukilan yang sangat indah dari seorang pecinta Rasul berikut ini.

Dari Abu Thalib, bahwasannya Imam Ahmad kepadaku:

“Tidak boleh memberikan zakat fitri dengan nilai mata uang.” kemudian ada orang berkomentar kepada Imam Ahmad: “Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz membayar zakat menggunakan mata uang.” Imam Ahmad “MARAH” dengan mengatakan: “Mereka meninggalkan hadits Nabi dan berpendapat dengan perkataan fulan. Padahal Abdullah bin Umar mengatakan: “Rasulullah mewajibkan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.” Allah juga berfirman: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul.” ada beberapa orang yang menolak sunnah dan mengatakan fulan itu berkata demikian.”

[Al-Mughni Ibn Qudamah 2/671]

Maka mendekatlah kepada sunnah ya ikhwati fillah.. InsyaAllah lebih selamat

Wallahu Ta’ala a’lam bishshawab.

Disunting · Suka · 3 · Sunting · 7 Agustus 2013

https://mobile.facebook.com/story.php?story_fbid=698728463476708&id=100000186826876&p=30&refid=52&ref=entries&_ft_=top_level_post_id.698728463476708

SYAFI’IYYAH BERBICARA ZAKAT
Bolehkah Dengan Uang ?

Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Penunaian zakat fitri wajib dalam bentuk satu sha’ dari umumnya bahan makanan di negeri tersebut pada tahun tersebut.” (Ad-Din Al-Khash)

Taqiyuddin Al-Husaini Asy-Syafi’i, penulis kitab Kifayatul Akhyar (kitab fikih Mazhab Syafi’i) mengatakan, “Syarat sah pembayaran zakat fitri harus berupa biji (bahan makanan); tidak sah menggunakan mata uang, tanpa ada perselisihan dalam masalah ini.” (Kifayatul Akhyar, 1:195)

An-Nawawi mengatakan, “Ishaq dan Abu Tsaur berpendapat bahwa tidak boleh membayar zakat fitri menggunakan uang kecuali dalam keadaan darurat.” (Al-Majmu’)

An-Nawawi mengatakan, “Tidak sah membayar zakat fitri dengan mata uang menurut mazhab kami. Pendapat ini juga yang dipilih oleh Malik, Ahmad, dan Ibnul Mundzir.” (Al-Majmu’)
Asy-Syairazi Asy-Syafi’i mengatakan, “Tidak boleh menggunakan nilai mata uang untuk zakat karena kebenaran adalah milik Allah. Allah telah mengkaitkan zakat sebagaimana yang Dia tegaskan (dalam firman-Nya), maka tidak boleh mengganti hal itu dengan selainnya. Sebagaimana berkurban, ketika Allah kaitkan hal ini dengan binatang ternak, maka tidak boleh menggantinya dengan selain binatang ternak.” (Al-Majmu’)

Ibnu Hazm mengatakan, “Tidak boleh menggunakan uang yang senilai (dengan zakat) sama sekali. Juga, tidak boleh mengeluarkan satu sha’ campuran dari beberapa bahan makanan, sebagian gandum dan sebagian kurma. Tidak sah membayar dengan nilai mata uang sama sekali karena semua itu tidak diwajibkan (diajarkan) Rasulullah.” (Al-Muhalla bi Al-Atsar, 3:860)

Asy-Syaukani berpendapat bahwa tidak boleh menggunakan mata uang kecuali jika tidak memungkinkan membayar zakat dengan bahan makanan.” (As-Sailul Jarar, 2:86)

Fiqih dan Ushul Fiqh
Diajarkan di KULIAH BAGUS

Pun di antara ulama abad ini yang mewajibkan membayar dengan bahan makanan adalah Syekh Ibnu Baz, Syekh Ibnu Al-Utsaimin, Syekh Abu Bakr Al-Jazairi, dan yang lain. Mereka mengatakan bahwa zakat fitri tidak boleh dibayarkan dengan selain makanan dan tidak boleh menggantinya dengan mata uang, kecuali dalam keadaan darurat, karena tidak terdapat riwayat bahwa Nabi mengganti bahan makanan dengan mata uang. Bahkan tidak dinukil dari seorang pun sahabat bahwa mereka membayar zakat fitri dengan mata uang.

Abu Tsabat Al-Faruq

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s