⌛“TIDAK, TETAPI ALLAH AKAN MENYIKSAMU KARENA MENYELISIHI AS-SUNNAH.”⌛

– “Mau ngamalin baca surah Al Baqarah ketika hamil biar nanti susu ASI-nya banyak kayak sapi, koq gak boleh? Bukankah ngaji itu baik?”

– “Mau ngamalin shalat Sunnah utk memperingati hari Valentine koq gak boleh? bukannya shalat itu baik?”

– “Mau ngamalin Shalawat ciptaan Mendut Band (Metal Dangdut) koq gak boleh? Bukannya Shalawat itu bagus?”

– “Mau bikin aplikasi Tahlilan (Selamatan Kematian) di Android koq gak boleh? Biar lebih mudah, jika ada yg meninggal cukup donlod dan play aplikasinya, tanpa harus ngundang orang2. Bukankah Tahlilan itu baik?”

– dan perumpamaan2 lainnya…
Ada jawaban yg bagus tentang perkara2 tsb. Setidaknya untuk membuka wawasan kita tentang Sunnah.
Ket : tidak menerima perdebatan. Bagi yang tidak sependapat, itu adalah haknya. Status ini tidak memaksakan seseorang utk mengikuti pendapat ini.

————-

1. Sa’id bin Musayyib, ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya..

Akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata :
” Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat ? ”

Beliau (Sa’id) menjawab :
“Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah.”
[Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra, II/466]

Apakah mungkin seseorang akan di adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ia melakukan shalat ???
Saudaraku.. Shalat adalah amalan yang paling utama, namun apabila dalam mengamalkannya tidak sesuai dengan sunnah (tuntunan) syari’at, maka itulah yang keliru, memang betul seseorang tidak akan di adzab karena shalat, namun ia bisa di adzab karena mengamalkannya tanpa tuntunan..

2. Shahabat yang mulia Ibnu ‘Umar radhiyallaahu
‘anhuma, menceritakan : Bahwasannya ada seorang laki-laki yang bersin kemudian dia berkata :
“Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillaah (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasulullah).”

Maka Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata :
“Aku juga mengatakan alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah (maksudnya juga bershalawat). Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami untuk mengucapkan (ketika bersin) :
“Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.”
[Diriwayatkan oleh At- Tirmidzi, no. 2738]

Perhatikan riwayat tsb.. Apakah itu berarti Shahabat yang mulia ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma melarang orang bershalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ???
Tidak saudaraku, tidak demikian.. Hanya saja, beliau radhiyallahu anhu menegur (baca : mengingkari) shalawat yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam..

Sekali lagi, tidak ada yang melarang seseorang bershalawat, bahkan shalawat sangat dianjurkan.. Namun, beliau (Ibnu ‘Umar) tetap mengingkarinya karena menyalahi Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dengan menambah ataupun merubah lafazh yang tidak diperintahkan tsb..

Lihatlah.. Hanya sedikit menambah lafazh shalawat saja sudah diingkari oleh shahabat, maka bagaimana jadinya jika ada yang sampai berani mengarang2 dan menciptakan lafazh shalawat2 sendiri2 ???

Wallahul Musta’aan..

3. Abu Musa Al As’ari Radhiyallahu ‘anhu : Di riwayatkan memasuki masjid Kufah, lalu didapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang syaikh (imam), dan didepan mereka ada tumpukan kerikil, lalu syaikh tersebut menyuruh mereka : “ Bertasbihlah seratus kali ! ”
Lalu mereka pun bertasbih (menghitung) dengan kerikil tersebut..
Lalu syaikh itu berkata lagi : “ Bertahmidlah seratus kali ”.
Dan demikianlah seterusnya..

Maka Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu mengingkari hal itu dalam hatinya tapi ia tidak mengingkari dengan lisannya. Hanya saja ia bersegera pergi dengan berlari kecil menuju rumah Abdullah bin Mas’ud, lalu ia pun mengucapkan salam kepada Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin mas’ud pun membalas salamnya..

Berkatalah Abu Musa kepada Ibnu Mas’ud :
” Wahai Abu Abdurrahman, sungguh baru saja saya memasuki masjid, lalu aku melihat sesuatu yang aku mengingkarinya, demi Allah tidaklah saya melihat melainkan kebaikan ”

Lalu Abu Musa menceritakan keadaan halaqah dzikir tersebut.
Maka berkatalah Ibnu Mas’ud kepada Abu Musa :
” Apakah engkau memerintahkan mereka untuk menghitung kejelekan- kejelekan mereka ? Dan engkau memberi jaminan mereka bahwa kebaikan- kebaikan mereka tidak akan hilang sedikitpun ?”

Abu Musa pun menjawab :
“ Aku tidak memerintahkan apapun kepada mereka.”
Berkatalah Abu Mas’ud : “Mari kita pergi menuju mereka”
Lalu Abu Mas’ud mengucapkan salam kepada mereka. Dan mereka membalas salamnya.

Berkatalah Ibnu Mas’ud :
” Perbuatan apa yang aku lihat kalian melakukannya ini wahai Umat Muhammad ? ”
Mereka menjawab :
“ Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih, tahmid, dan tahlil, dan takbir. ”
Maka berkatalah Ibnu Mas’ud :
” Alangkah cepatnya kalian binasa wahai Umat Muhammad, (padahal) para sahabat masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, ataukah kalian ingin berada diatas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad ? ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan ?”

Mereka pun menjawab :
“ Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan. ”
Abu Mas’ud pun berkata :
“ Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya.”
Berkata Amru bin Salamah :
“ Sungguh aku telah melihat umumnya mereka yang mengadakan majelis dzikir itu memerangi kita pada hari perang “An Nahrawan” bersama kaum Khawarij ”
[Riwayat Darimi dengan sanad shahih]

Coba kita perhatikan riwayat riwayat tsb, bukankah apa yang mereka (yang di tegur) lakukan (shalat, shalawat, dzikir) adalah amalan2 yang baik ????

– Mengapa Sa’id bin Musayyib melarang orang menunaikan shalat ??? Bukankah shalat baik ???
Tiada lain karena shalatnya menyelisihi sunnah / tidak di lakukan Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam..

– Mengapa Ibnu ‘Umar melarang menambah lafadz sholawat setelah mengucapkan alhamdulillah ketika bersin ??? Bukankah shalawat baik ???
Tiada lain karena yang di lakukan orang tersebut tidak pernah di lakukan oleh Rosululloh shallallahu alaihi wa sallaam.

– Mengapa Ibnu Mas’ud menegur orang-orang yang sedang berdzikir ??? Bukankah dzikir baik ???
Tiada lain karena dzikir model tersebut tidak pernah di lakukan oleh Rosululloh shallallahu alaihi wa sallaam..

Semua yang ditegur para shahabat tsb bukanlah tentang baik/buruknya, karena semua amalan tsb tentunya adalah amalan2 yang baik (shalat, shalawat, dzkir), tapi ini adalah tentang tentang cocok/tidaknya dengan tuntunan, perbuatan yang di tegur oleh para Sahabat tadi karena menyelisihi sunnah, tidak pernah di lakukan Rosululloh shalllallahu ‘alaihi wa sallam, inilah intinya.

Mungkin diantara saudara kita akan ada yang berkelit :
“Tapi itu semua khan baik, mungkin memang tak ada tuntunannya, atau katakanlah itu bud’ah, tapi itu hasanah, yakni bid’ah hasanah..”

Sekarang kita tanya :
APAKAH PARA SAHABAT TIDAK TAHU KALAU BID’AH ITU ADA YANG HASANAH ???
APAKAH PARA PECINTA BID’AH SA’AT INI LEBIH FAHAM ISLAM DARI PADA PARA SAHABAT ???
Saudaraku.. Jika anggapan baik sudah cukup untuk melegalkan sebuah amalan (ibadah), maka kenapa justru diingkari oleh para shahabat ???

“Betapa banyak manusia yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya”
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan ni’mat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat..

Wallohu ‘alamu bishowab..

View on Path

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s