SUNGGUH AKHLAK YANG MULIA DARI KETURUNAN AHLUL BAYT SEJATI.

Sungguh akhlak yang mulia dari
keturunan Ahlul Bayt sejati.

::: Bis Kampus dan Habib Keturunan
Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa
sallam..

Selepas Maghrib tadi malam Ana dan
Akh Lukman Hakim Addurie
ketinggalan Bus Kampus yg biasanya
selalu membawa teman2 Mhsswa
menuju kampus dari Apartemen kami
di jalan Abu Dzar al-Ghifari.

Berhubung ada Muktamar penting
ba’da Isya kami memutuskan untuk
menggunakan jasa transportasi umum
(Naql) menuju Kampus UIM tercinta.
ada pengalaman dan pelajaran
menarik dari perjalanan kami tadi
malam, pengalaman bertemunya kami
dgn sopir yg sangat kuat bersholawat
dan menyebutkan asmaul husna.
penampilannya sederhana, syarat
akan ketawadduan dan
kebijaksanaan.

Tiba-tiba…
sopir ini membawa kami ke jalur yg
belum pernah kami lewati tuk menuju
kampus, karena merasa ngga enak
dan khawatir, ana memberi kode
kepadanya kalau jalan ini salah.
maka dengan senyuman dan memulai
dengan kalimah toyyibah, sopir ini
mengatakan dengan santun: “kita
ngisi bensin dulu di depan, kemudian
balik arah menuju Jami’ah
Islamiyah”. hufff, alhmdllh.. tenang
rasanya, sambil terus b’doa untuk
dijauhkan dari kejahatan
makhluqNya.

Setelah berada di jalan Kholid bin
walid, jalan besar menuju kampus,
Ana mencoba memecah kesunyian
antara kami bertiga dengan basa basi
ringan ala bangsa Arab. ternyata
sopir ini sangat merespon dan
bersholawat lebih dahsyat dan lebih
banyak berdoa.

“Anta min Sumatro (kamu dari
Sumatra)” tanyanya
“Laa, Ana min Borneo (tidak, saya
dari Kalimantan)” jawab ana singkat.
karena penasaran, ana balik tanya.
“hal zurta Indunisya (apakah Anda
sudah mengunjungi Indonesia)?”
“wallahi lamma, lakin insya Allah ya
kariim ya ghoni” jawab beliau sambil
menggelengkan kepala.
“wa hal anta min sukkani Al Madinah
(Anda tinggal disini)?”: usut ana lagi.
“Na’am walhamdulillah, ni’ma ad-
daar wallah (Ya, dan alhamdulillah,
demi Allah ini adalah tempat yang
baik)”.
“minal Anshor (Anda bagian dari
kaum Anshor yg menolong Nabi dikala
Hijrah)?” tanya ana lagi, dan
pertanyaan ini merupakan kemuliaan
bagi penduduk Madinah.
“Ana min Aali al-Bayt(Saya dari
keluarga Nabi Muhammad)”. jawab
beliau santun diiringi sholawat setelahnya.

Allahu Akbar!!! Ana dan Akh Lukman
saling berpandangan. ini anggota
rumah Nabi, ini keluarga Nabi!!!
“Masya Allah, Tabarakallah…
Hayyakallah ya Syaikhona” doa Ana
untuknya.
“Apakah Anda mengetahui nasab
Anda sampai Rasul?” Tanya Lukman
meramaikan suasana malam itu.
“ya, tentu. Alhamdulillah.” jawabnya
santun, lagi-lagi diiringi sholawat
khasnya.

Terbayang dipikiranku akan hak-hak
dia atas kami dari ihtirom dan
takrim, sebagaimana terbayang jelas
gambaran penduduk Indonesia di
Tanah Air yg sangat menghormati
Keluarga Nabi, sampai menyematkan
gelar HABIB kepada mereka, dan
HABIB-HABIB itu sangat banyak. lalu
terbayang sikap beberapa kaum
muslimin tanah air yang Ghuluw
terhadap Habib2 itu, ada yg mencium
tangannya, bertabarruk dari
benda2nya, sholat di kuburannya,
mengagung-agungkannya dengan
kewajaran yg lewat dll, yg sangat
kontras dengan penampilan “habib”
yg satu ini, “sopir” kami malam ini.

Akhirnya, di belokan pertama jalan
Sulthonah Ana ceritakan kepada sopir
ini suasana kehidupan sebagian Habib
di tanah Air, dan beliau beristighfar
dan memberi kami beberapa nasihat.
“Tidak sepantasnya ghuluw kepada
keluarga Nabi, cukuplah
penghormatan kepada mereka sebagai
saudara muslim. Nabi mengatakan
((Saya Sayyid orang yg bertaqwa,walaupun ia hamba sahaya dari
Negeri Habasyah)), nasab tidak
mentazkiyah seseorang…” pesan
beliau.
“apakah mereka tidak membaca ayat
Allah ((Tidaklah Muhammad itu
Bapak dari seseorang diantara
kalian, akan tetapi dia adalah
Rasulullah…))? semua kita sama
dihadapan Allah, yg membedakan
derajat kita adalah ketaqwaan kita
padaNya”. lanjut Beliau.

Akhirnya sampailah kami di pintu
gerbang kampus UIM, kami turun di
depan gedung kuliah Fakultas
Syari’ah.
“Bikam Syaikh (berapa yg kami
bayar)?” tanya Ana memastikan
kesepakatan awal di depan
apartemen tadi.
“Asyaroh Riyal bass (cukup 10 riyal)”
jawab beliau dengan logat ammiyah
yg khas.
“afwan, syu ismik?” tanya Ana
dengan ammiyah dasar tuk
mengakrabkan, diiringi tendangan
ringan Taekwondo Lukman di kaki
ana.
“Ana HAMZAH AL-JAELANI, Syaikh
Abdul Qadir Jaelani salah satu kakek
saya” jawab Beliau atas pertanyaan
saya tadi.
“Hayyakallah ya Syaikh Hamzah, Ana
Akhukum Muhammad Dinul Haq
(semoga Allah memuliakanmu syaikh,
saya saudara Anda)”.
“hayyakallah ya Indunisy” doa
syaikh Hamzah.

Kami pun berpisah dengan harapan
bertemu kembali
Lukman mengajakku menuju kantin kampus sambil menunggu Azan Isya.
berjalan dengan senyuman atas
pengalaman malam ini.
“Luke, ada hikmahnya juga
ketinggalan Bus” celetuk ana
“Beh..beh.. Itu Orang klo di Indonesia
pasti udah jadi Habib besar, dipuji
.puji orang…” komentar Luke dengan
logat khas Makassarnya.
“ha..ha..”

| Copas dari Akun Di Kota Nabi
| Oleh: Muhammad Dinul Haq,
Mahasiswa Fakultas Bahasa Arab
Semester 5 Universitas Islam Madinah

View on Path

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s