SEPUTAR RAMBUT ATAU BULU YANG WAJIB DIBIARKAN DAN TIDAK BOLEH DIHILANGKAN

image

Oleh
Ustadz Nurul Mukhlisin Asyrafuddin

Termasuk bentuk kesempurnaan
penciptaan manusia, keberadaan
rambut atau bulu di tubuhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakannya tidak dengan sia-sia, namun mengandung hikmah atau manfaat, baik diketahui oleh manusia atau tidak. Rambut atau bulu yang tumbuh pada jasad manusia ada yang harus dijaga bahkan wajib dibiarkan, ada juga yang diperintahkan untuk dihilangkan.

Dengan demikian, ditinjau dari
hukum Islam (fiqh), hukum rambut atau bulu manusia bisa
diklasifikasikan menjadi tiga bagian.

Pertama. Rambut atau bulu yang
harus dihilangkan dan tidak boleh
dibiarkan.
Kedua. Rambut atau bulu
yang boleh dihilangkan atau
dibiarkan.
Ketiga. Rambut atau bulu yang wajib dibiarkan dan tidak boleh
dihilangkan.
Tulisan berikut ini merupakan
kelanjutan naskah yang sama, yang telah dimuat pada edisi 01/Tahun IX/1426H/2005M.

RAMBUT ATAU BULU YANG WAJIB
DIBIARKAN DAN TIDAK BOLEH
DIHILANGKAN

1. Jenggot Bagi Laki-Laki
Banyak hadist shahih yang
mengharamkan seorang laki-laki
mencukur jenggotnya. Beberapa
lafadz yang digunakan Rasulullah
dalam memerintahkan agar laki-laki
membiarkan jenggotnya, seperti ﻭَﺃَﻋْﻔُﻮﺍ
ﺍﻟﻠِّﺤَﻰ perbanyaklah/ perteballah
jenggot), ﻭَﻓِّﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠُّﺤَﻰ (perbanyaklah
jenggot), ﺃَﺭْﺣُﻮْﺍ ﺍﻟﻠُّﺢَ (biarkanlah jenggot
memanjang) , ﺃَﻭْﻓُﻮْﺍ ﺍﻟﻠُّﺤَﻰ (sempurnakan/
biarkan jenggot tumbuh lebat). Semua
lafadz tersebut bermakna perintah
untuk membiarkan jenggot tumbuh
dan lebat dan tidak boleh
mencukurnya.[1]
Berikut ini lafadz-lafadz hadits di
dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih
Muslim yang memerintahkan untuk
membiarkan jenggot.
Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
was allam bersabda:
ﺍﻧْﻬَﻜُﻮﺍ ﺍﻟﺸَّﻮَﺍﺭِﺏَ ﻭَﺃَﻋْﻔُﻮﺍ ﺍﻟﻠِّﺤَﻰ
“Tipiskanlah kumis dan perbanyaklah
(perteballah) jenggot”. [HR Bukhari].
Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
ﺧَﺎﻟِﻔُﻮﺍ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﻭَﻓِّﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠِّﺤَﻰ ﻭَﺃَﺣْﻔُﻮﺍ ﺍﻟﺸَّﻮَﺍﺭِﺏَ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﺑْﻦُ
ﻋُﻤَﺮَ ﺇِﺫَﺍ ﺣَﺞَّ ﺃَﻭْ ﺍﻋْﺘَﻤَﺮَ ﻗَﺒَﺾَ ﻋَﻠَﻰ ﻟِﺤْﻴَﺘِﻪِ ﻓَﻤَﺎ ﻓَﻀَﻞَ ﺃَﺧَﺬَﻩُ
“Berbedalah dengan orang-orang
musyrik dan perbanyaklah jenggot.”
Abdullah bin Umar, apabila melakukan
haji atau umrah, beliau menggenggam
jenggotnya, apa yang lebih (dari
genggaman)nya, beliau
memotongnya” [HR Bukhari].
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
ﺟُﺰُّﻭﺍ ﺍﻟﺸَّﻮَﺍﺭِﺏَ ﻭَﺃَﺭْﺧُﻮﺍ ﺍﻟﻠِّﺤَﻰ ﺧَﺎﻟِﻔُﻮﺍ ﺍﻟْﻤَﺠُﻮﺱَ
“Potonglah kumis dan biarkan jenggot
memanjang. Berbedalah dengan
orang Majusi”. [HR Muslim].
Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
ﺧَﺎﻟِﻔُﻮﺍ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﺃَﺣْﻔُﻮﺍ ﺍﻟﺸَّﻮَﺍﺭِﺏَ ﻭَﺃَﻭْﻓُﻮﺍ ﺍﻟﻠِّﺤَﻰ
“Berbedalah dengan orang-orang
musyrikin. Tipiskan kumis dan biarkan
jenggot tumbuh sempurna (panjang)”.
[HR Muslim].
Syaikh Abdul Aziz bin Baz
berkata,”Dengan demikian,
berdasarkan beberapa hadits di atas,
maka mencukur jenggot dan
memotongnya adalah termasuk
perbuatan dosa dan maksiat yang
dapat mengurangi iman dan
memperlemahnya, serta
dikhawatirkan ditimpakan kemurkaan
dan adzab Allah.”
Beliau menekankan: “Di dalam
hadits-hadits tersebut di atas,
terdapat petunjuk bahwa
memanjangkan kumis dan mencukur
jenggot serta memotongnya, termasuk
perbuatan menyerupai orang-orang
Majusi dan orang-orang musyrik.
Padahal sudah diketahui, sikap
meniru mereka merupakan perbuatan
munkar yang tidak boleh dilakukan.
Nabi bersabda:
ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻓَﻬُﻮَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu
kaum, maka ia termasuk dari
golongan mereka”. [HR Abu Dawud].
[2]

2. Rambut Alis Atau Mata.
Mencukur rambut alis atau mata
termasuk perbuatan haram.
Pelakunya dilaknat oleh Allah,
terlebih lagi bagi wanita. Dari
Abdullah, Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
ﻟَﻌَﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺷِﻤَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻮْﺷِﻤَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﻣِﺼَﺎﺕِ
ﻭَﺍﻟْﻤُﺘَﻨَﻤِّﺼَﺎﺕِ
“Allah melaknat wanita yang
membuat tato dan yang minta
dibuatkan (tato), yang mencukur alis
dan yang meminta dicukurkan”. [HR
Muslim].
Mencukur alis atau menipiskannya,
baik dilakukan oleh wanita yang belum
menikah atau sudah menikah, dengan
alasan mempercantik diri untuk suami
atau lainnya tetap diharamkan,
sekalipun disetujui oleh suaminya.
Karena yang demikian termasuk
merubah penciptaan Allah yang telah
menciptakannya dalam bentuk yang
sebaik-baiknya. Dan telah datang
ancaman yang keras serta laknat bagi
pelakunya. Ini menunjukkan bahwa
perbuatan tersebut adalah haram.[3]
Adapun bila bulu alisnya terlalu
panjang melebihi keadaan normal,
atau ada beberapa helai yang tidak
rata sehingga sangat mengganggu bagi
diri wanita, maka memotongnya atau
meratakannya dibolehkan oleh
sebagian ulama, seperti Imam Ahmad
dan Hasan Al Bashri. [4]
Sedangkan menghilangkan bulu di
wajah (pipi), maka bila dilakukan
dengan namsh yaitu menggunakan
minqasy (alat pencungkil) hingga ke
akar-akarnya, maka tidak boleh.
Tetapi bila melakukannya dengan al
huf, yaitu menghilangkan dengan
silet atau pisau cukur, maka Imam
Ahmad berkata: “Tidak mengapa bagi
wanita, dan saya tidak menyukainya
(dilakukan) laki-laki”. [5]
Imam Al ‘Aini lebih mengkhususkan
bagi wanita yang sudah menikah,
untuk mempercantik diri kepada
suaminya, beliau berkata:
ﻭَﻻَ ﺗُﻤْﻨَﻊُ ﺍﻷَﺩْﻭِﻳَﺔُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺗُﺰِﻳْﻞُ ﺍﻟْﻜَﻠْﻒَ ﻭَﺗُﺤْﺴِﻦَ ﺍﻟْﻮَﺟْﻪَ ﻟِﻠﺰَّﻭْﺝِ
ﻭَﻛَﺬَﺍ ﺃَﺧْﺬُ ﺍﻟﺸَّﻌْﺮِ ﻣِﻨْﻪُ
“Maka tidak dilarang menggunakan
obat yang bisa menghilangkan bulu
dan mempercantik wajah untuk
suami, begitu juga (tidak dilarang)
mengambil rambut darinya (wajah)”.
[6]
Wanita Memakai Konde
Diharamkan bagi wanita memakai
konde, dengan menyambung
rambutnya dengan rambut orang lain
atau rambut palsu. Pelakunya
mendapatkan laknat, sebagaimana
sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam :
ﻟَﻌَﻦَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺻِﻠَﺔَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻮْﺻِﻠَﺔَ ﻭَﺍﻟْﻮَﺍﺷِﻤَﺔَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻮْﺷِﻤَﺔَ
“Allah melaknat wanita yang
menyambung rambutnya dan yang
minta disambung (dengan rambut
lain), yang membuat tato dan yang
minta dibuatkan tato”. [HR Muslim].
Sebagian ulama membolehkan wanita
menyambung rambutnya dengan
selain rambut manusia. Misalnya,
dengan rambut binatang, benang atau
dari serat.
Imam Al Laits bin Sa’id berkata:
“Sesungguhnya larangan menyambung
rambut itu khusus menyambung
dengan rambut. Tidak mengapa
seorang wanita menyambung
rambutnya dengan wol atau kain”.[7]
Imam Abu Dawud meriwayatkan dari
Sa’id bin Jubair, beliau berkata:
ﻻَﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟْﻘَﺮَﺍﻣِﻞِ
“Tidak mengapa (menyambung
rambut) dengan qaramil (sejenis
tumbuhan yang batangnya sangat
lunak)”.
Fairuz Abadi berkata,”Sa’id bin
Jubair berpendapat, yang dilarang
ialah menggunakan rambut manusia.
Adapun bila menyambungnya dengan
sobekan kain, atau benang sutera dan
lainnya, maka tidak dilarang.” Al
Khaththabi berkata,”Para ulama
memberikan keringanan menggunakan
qaramil, karena orang yang
melihatnya tidak ragu, bahwa yang
demikian itu palsu (bukan rambutnya
yang asli).” [8]
Ibnu Qudamah berkata,”Yang
diharamkan ialah menyambung
rambut dengan rambut, karena
terdapat tadlis (unsur penipuan) dan
menggunakan sesuatu yang masih
diperdebatkan kenajisannya. Adapun
selain itu, maka tidak diharamkan,
karena tidak mengandung makna ini
(tadlis dan najis), juga adanya
maslahah untuk mempercantik diri
kepada suami dengan tidak
mendatangkan madharat (bahaya).
“[9]
Namun berdasarkan keumuman
larangan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, sebaiknya seorang
wanita tidak melakukan wishal
(menyambung rambut). Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
ﺯَﺟَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻥْ ﺗَﺼِﻞَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺑِﺮَﺃْﺳِﻬَﺎ
ﺷَﻴْﺌًﺎ
“Rasulullah melarang wanita
menyambung rambutnya dengan
sesuatu”. [HR Muslim].
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda :
ﺻِﻨْﻔَﺎﻥِ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻟَﻢْ ﺃَﺭَﻫُﻤَﺎ ﻗَﻮْﻡٌ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﺳِﻴَﺎﻁٌ ﻛَﺄَﺫْﻧَﺎﺏِ
ﺍﻟْﺒَﻘَﺮِ ﻳَﻀْﺮِﺑُﻮﻥَ ﺑِﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻭَﻧِﺴَﺎﺀٌ ﻛَﺎﺳِﻴَﺎﺕٌ ﻋَﺎﺭِﻳَﺎﺕٌ ﻣُﻤِﻴﻠَﺎﺕٌ
ﻣَﺎﺋِﻠَﺎﺕٌ ﺭُﺀُﻭﺳُﻬُﻦَّ ﻛَﺄَﺳْﻨِﻤَﺔِ ﺍﻟْﺒُﺨْﺖِ ﺍﻟْﻤَﺎﺋِﻠَﺔِ ﻟَﺎ ﻳَﺪْﺧُﻠْﻦَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ
ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺠِﺪْﻥَ ﺭِﻳﺤَﻬَﺎ ﻭَﺇِﻥَّ ﺭِﻳﺤَﻬَﺎ ﻟَﻴُﻮﺟَﺪُ ﻣِﻦْ ﻣَﺴِﻴﺮَﺓِ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ
“Dua golongan dari ahli neraka yang
tidak pernah aku lihat: seorang yang
membawa cemeti seperti ekor sapi
yang dia memukul orang-orang, dan
perempuan yang berpakaian tetapi
telanjang, berlenggok-lenggok,
kepalanya bagaikan punuk onta yang
bergoyang. Mereka tidak akan masuk
surga dan tidak akan mendapatkan
baunya, sekalipun ia bisa didapatkan
sejak perjalanan sekian dan sekian”.
[HR Muslim].
Imam An Nawawi menukil perkataan
Imam Al Qurthubi yang berbunyi:
“Rambut mereka diumpamakan seperti
punuk onta, karena mereka
mengangkat sanggul rambutnya ke
bagian tengah kepalanya untuk
menghias dirinya dan ia berpura-
pura melakukan itu agar dianggap
memiliki rambut yang lebat (panjang)
“.[10]
Seorang wanita tidak perlu merasa
malu dengan rambutnya yang sedikit
karena itu bagian dari karunia Allah.
Ditambah lagi, itu juga tidak ada
yang melihat, karena ia tutup dengan
jilbab (hijab)nya. Adapun mengikat
rambut dengan selain rambut, maka
itu diperbolehkan.
Al Qadhi ‘Iyadh Al Maliki berkata,
“Adapun mengikat rambut dengan
sutera yang diberi warna dan lainnya
yang tidak menyerupai rambut, maka
tidaklah dilarang. Karena ia tidak
termasuk wishal (menyambung) dan
tidak bertujuan untuk itu. Itu hanya
sekedar sebagai penghias.” [11] Dan
inilah yang dimaksud dengan
menyambung rambut yang dibolehkan
oleh para ulama di atas. Wallahu
a’lam.
Hukum Menyemir Rambut
Menyemir rambut dibolehkan baik
laki-laki maupun perempuan dengan
syarat tidak menggunakan warna
hitam. Demikian ini berdasarkan
hadits riwayat dari Jabir bin
Abdullah, beliau berkata: Abu
Quhafah, ayahnya Abu Bakar datang
saat penaklukan kota Makkah.
Rambut dan jenggot beliau telah
memutih. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
ﻏَﻴِّﺮُﻭﺍ ﻫَﺬَﺍ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻭَﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﺍﻟﺴَّﻮَﺍﺩَ
“Rubahlah ini dengan sesuatu dan
jauhilah warna hitam”. [HR Muslim].
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩَ ﻭَﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﻟَﺎ ﻳَﺼْﺒُﻐُﻮﻥَ ﻓَﺨَﺎﻟِﻔُﻮﻫُﻢْ
“Sesungguhnya Yahudi dan Nashrani
tidak menyemir (rambutnya), maka
berbedalah dengan mereka”. [HR
Muslim].
Anas berkata,”Saya melihat rambut
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam mahdhuban (disemir).”
Abu Hurairah pernah ditanya:
Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam menyemir rambutnya?
Beliau menjawab,”Ya.” [12]
Imam An Nawawi berkata,”Madzhab
kami ialah dianjurkan untuk
menyemir uban bagi laki-laki dan
wanita dengan warna kuning atau
merah, dan tidak menyemirnya
dengan warna hitam berdasarkan
hadits di atas.” [13]
Al Hafizh Ibnu Hajar
berkata,”Sebagian ulama ada yang
memberikan keringanan (menyemir
dengan hitam) ketika berjihad.
Sebagian lagi memberikan keringanan
secara mutlak. Yang lebih utama
adalah hukumnya makruh. Bahkan
Imam Nawawi menganggapnya makruh
yang lebih dekat dengan haram.
Sebagian ulama salaf memberikan
keringanan (menyemir dengan hitam)
, Misalnya, seperti Sa’d bin Abi
Waqqash, Uqbah bin Amir, Al Hasan,
Al Husain, Jarir, dan lainnya. Inilah
yang dipilih Ibnu Abi Ashim. Mereka
membolehkan untuk wanita dan tidak
untuk pria, inilah yang dipilih oleh Al
Hulaimi. Ibnu Abi Ashim memahami
dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam : ‘Jauhi warna hitam,’ karena
menyemir dengan warna hitam
merupakan tradisi mereka.” [14]
Imam Ibnul Qayyim
berkata,”Larangan menyemir rambut
dengan warna hitam, bila dengan
warna hitam pekat. Apabila tidak
hitam pekat seperti mencampur
antara katam (semir warna hitam)
dengan hina (warna merah), maka
tidak mengapa, karena akan
membuat rambut menjadi merah
kehitam-hitaman.”
Terkadang menyemir dengan warna
hitam dilarang bila ada unsur tadlis
(penipuan), seperti wanita yang
sudah tua menyemir rambutnya agar
menarik orang yang meminangnya
dan ingin menikahi dirinya, atau pria
yang sudah tua agar tidak kelihatan
ubanan sehingga memikat wanita yang
ingin dinikahinya. Semiran semacam
ini termasuk penipuan dan
kebohongan yang dilarang. Apabila
tidak ada unsur penipuan dan
kedustaan, maka tidak mengapa.
Telah ada riwayat shahih yang
menjelaskan bahwa Al Hasan dan Al
Husain menyemir rambutnya dengan
warna hitam.[15]
Membaca penjelasan para ulama di
atas, maka menyemir dengan warna
hitam dibolehkan dengan syarat,
yaitu tidak murni hitam tapi
dicampur dengan warna lain, seperti
merah atau kuning. Juga tidak boleh
terdapat unsur penipuan dan
pembohongan, agar dianggap lebih
muda dan lainnya. Hukum ini berlaku
bagi pria dan wanita, terutama yang
sudah menikah.
Imam Ishaq berkata,”Wanita
dibolehkan menyemir dengan warna
hitam untuk mempercantik dirinya
untuk suaminya.” [16]
Imam Ahmad meriwayatkan dari
‘Aisyah, beliau berkata: Isteri Utsman
bin Mazh’un, dulunya menyemir
(rambutnya) dan memakai wewangian
kemudian meninggalkannya. Ia masuk
menemui Aisyah dan ditanya,”Apakah
Anda bersama suami atau tidak?” Ia
berkata,”Bersama suami, tapi Utsman
tidak menyukai dunia dan wanita.”
Aisyah berkata,”Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk
menemuiku, kemudian aku ceritakan
semuanya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam menemui Utsman dan
bersabda,”WahaiUtsman, apakah
Anda beriman sebagaimana kami
beriman?” Utsman menjawab,”Ya,
wahai Rasulullah.” Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,”Kenapa Anda tidak
menjadikan kami sebagai teladan?!”
Asy Syaukani dalam menjelaskan
hadits ini berkata: ”Pengingkaran
Aisyah terhadap isteri Utsman yang
meninggalkan semir dan parfum
menunjukkan, bahwa wanita yang
memiliki suami lebih baik baginya
untuk berhias untuk suaminya dengan
menyemir rambutnya dan memakai
wewangian.[17]
Demikianlah, Allah menumbuhkan
rambut (bulu) di badan manusia. Di
antara rambut (bulu) tersebut ada
yang diperintahkan untuk tetap
dibiarkan dan dipelihara, namun ada
juga yang diperintahkan untuk
dihilangkan. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam memberikan
tuntunan dalam menjaga atau
menghilangkan rambut bulunya.
Seorang mukmin dituntut untuk bisa
mengikuti tuntunan tersebut, baik
dalam membiarkan rambut (bulu)nya,
atau ketika mencukur atau
menghilangkannya. Karena ia
ittiba’ (mengikuti) tuntunan
Rasulullah, maka tindakannya
tersebut bisa bernilai ibadah yang
mendapatkan kecintaan dan
ampunan Allah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah
Edisi 02/Tahun IX/1426/2005M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah
Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183
Telp. 0271-761016]
Sumber: http://almanhaj.or.id
_______
Footnote
[1]. Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul
Baari, Juz 12, hlm. 543.
[2]. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah
bin Baz, Fatwa-Fatwa Terkini :
(1/172), Darul Haq Jakarta Th.1999
[3]. Syaikh Abdullah bin Jibrin,
Fatawa Islamiyah : (3/200). Dar Al
Qalam Beirut, 1408 H.
[4]. Imam An Nawawi, Al Majmu’ :
(1:349).
[5]. Ibnu Qudamah, Al Mugni, (1/91).
[6]. Badruddin Abi Muhammad
Mahmud bin Ahmad Al ‘Aini, Umdatul
Qari Syarah Shahih Al Bukhari,
(2/193), Ihya’ At Turats Al ‘Arabi
Beirut, Tanpa tahun,.
[7]. Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul
Baari (10/375), Imam An Nawawi,
Syarah Shahih Muslim, (14/104).
[8]. Fairuz Abadi, ‘Aunul Ma’buud,
(11/228-229).
[9]. Ibnu Qudamah, Al Mughni,
(1/94).
[10]. Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul
Baari (10/375).
[11]. Imam An Nawawi, Syarah
Shahih Muslim, (14/104-105)
[12]. Muhammad bin Isa At Tirmidzi,
Syama’il Al Muhammadiyah hlm.
26-27 Daar Ibn Hazm Beirut, 1418 H.
[13]. Imam An Nawawi, Syarah
Shahih Muslim, (14/80).
[14]. Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul
Baari, (10/354-355).
[15]. Muhammad Abdurrahman bin
Abdurrahim Al Mubarakfuri, Tuhfatul
Ahwadzi Syarah Jami’ Tirmidzi,
Kairo, Al Madani, Tanpa tahun, Juz
5, hlm. 442.
[16]. Ibnu Qudamah, Al Mughni, Juz
1, hlm. 92.
[17]. Asy Syaukani, Nailul Authar, Juz
6, hlm. 193-194.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s