Menimbang Nilai Dunia Dan Nilai Akhirat

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Allah Azza wa`Jalla berfirman: “Dengan harta yang telah Allah karuniakan padamu itu hendaknya kau cari (kebahagiaan) kampung akhirat, namun jangan kau lupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu, dan janganlah kamu berbuat rusak d muka (bumi). Sesungguhnya Allah tidak menyukai para pembuat kerusakan.” [QS. Al Qashash : 77]

Banyak kalangan ketika membaca ayat d atas menyimpulkan bahwa idealnya, selaku muslim seseorang hendaknya bersikap setimbang dalam memandang nilai dunia dan akhirat. Kesimpulan ini lalu d yakini dan menjadi gaya hidupnya. Bahkan lebih dari itu, faham ini banyak d serukan kepada ummat, baik melalui artikel d media cetak atau ceramah-ceramah d atas podium. Hal ini perlu d soroti, karena faham tersebut tidak hanya d dasari pada hasil pemikiran saja, namun d dasari pada hasil nash-nash syar’i. Seakan-akan syari’at ini memang menurut para pemeluknya u/memiliki sikap yang sama.

Mungkin faham ini begitu terpatri dalam banyak benak berbagai kalangan (hatta, orang yang pernah dekat dengan ana pun pernah menyatakan hal yang semisal dengan ini) hingga akhirnya mereka mulai mengkritisi orang-orang yang memberikan perhatian lebih kepada urusan akhirat. Menurut mereka baik dunia ataupun akhirat adalah sama-sama substansional. Tidak ada salah satu yang layak d berikan perhatian lebih melainkan harus betul-betul seimbang. Dengan hal inilah d yakini bahwa ummat islam akan mampu mencapai k bahagiaan dunia dan akhirat.

Faham seperti ini mungkin saja berangkat dari keperihatinan sebagian kalangan dengan derasnya laju kemerosotan nilai ummat islam d mata dunia. Tentu saja pada lini-lini yang kasat mata, misalny dalam hal kekuatan militer, kemajuan teknologi, kemampuan finansial dan nilai-nilai lain yang selama ini masih menjadi tolok ukur kemakmuran bangsa-bangsa. Meskipun dalam banyak hal lain tentu prestasi ummat ini layak d perhitungkan keprihatinan itu sendiri merupakan sikap yang patut d berikan apresiasi, karena hal itu menunjukan besarnya perhatian yang d berikan kepada dunia islam. Namun persoalannya adalah, apakah tepat jika sikap ini d jadikan sebagai solusi u/permasalahan trsebut. Hal ini tentu membutuhkan pendalaman masalah.

Kita tidak akan membahas solusi u/mengurai permasalahan itu sendiri. Karena tentu akan d butuhkan banyak data dari fakta sejarah dan juga pembahasan panjang yang tidak cukup d ulas dalam beberapa halaman saja. Namun kita akan menyoroti seberapa tepat ayat trsebut u/d jadikan dasar sikap setimbang seperti yang telah d sebutkan. Kita dapat mengkajiny dari beberapa sisi.

1.) Teks ayat tersebut sebenarnya berupa potongan dialog dalam kisah seorang hartawan kaya raya, yang begitu congkak hingga menjadi profil kekufuran teradap ni’mat Allah, dengan para pengusung kebenaran yang berusaha mengembalikannya k jalan yang d ridhoi oleh Allah. Ayat tersebut berisikan pesan kebenaran u/si hartawan agar ia tidak terlalu tenggelam dalam gemerlap dunia, dan lebih mementingkan kehidupan akhiratnya. Maka akan menjadi kurang tepat jika kini pesan itu justru d tujukan kepada mereka yang mempunyai semangat tinggi dalam memburu prihal ukhrawi, agar mereka sedikit mengendorkan semangat itu dan mengalokasikannya pada hal2 yang bersifat duniawi.

2.) Dari pilihan kata yang d gunakan dalam menyampaikan pesan itupun kita dapat melihat maksud yang d inginkan sangat jelas tersirat. Pesan itu d mulai dengan kaliat perintah “Carilah kehidupan ukhrawi” ini adalah inti pesan itu sendiri, makany d sebvkan d muka agar maksud yang d inginkan dapat segera tertangkap dalam benak penerimanya. D situ tidak d cantumkan kata “bagian” seakan-akan mengisyaratkan bahwa dalam memburu perihal ukhrawi hendaknya seseorang mengumpulkan sebanyak mungkin dan jangan mencukupkan diri dengan sebagian kecil saja.

Baru kemudian pesan itu d iringi dengan pesan berikutnya, sebagai antisipasi adanya sikap lebay/ghuluw (berlebihan) dalam mengejawantahkan pesan pertama. Pilihan kata yang d gunakan hanyalah larangan u/meninggalkan sama sekali. Yaitu firman-Nya: “Namun jangan (pula) kau melupakan bagianmu dari kesenangan duniawi.” Tentu hal ini mempunyai tekanan yang berbeda dengan perintah langsung. Ini memberikan isyarat bahwa syariat ini bukanlah peraturan yang keras dan sulit. Perintah memburu perihal ukhrawi tidak serta merta memberikan makna bahwa menikmati kehidupan dunia itu haram hukumnya. Ada kelonggaran yang d berikan meski tetap memberikan batasan bahwa cukup engkau nikmati sekedar apa yang engkau butuhkan saja. Itulah mengapa dalam kalimat tersebut d sisipkan kata “bagianmu”. Sehingga makna secara umum keseluruhannya adalah, “Berusaha keraslah u/meraih kebahagiaan ukhrawi, meski begitu jangan kau tinggalkan dunia sama sekali, namun ambillah secukupnya sesuai yang kau butuhkan.”

3.) Tidak tepat memaknai ayat ini sebagai hasungan u/ menyetimbangkan permasalahan dunia dan urusan akhirat. Karena yang demikian akan menafikan banyak ayat lain yang secara jelas dan gamblang menyebutkan keutamaan akhirat atas dunia. D antaranya adalah firman Allah Ta’ala: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya main-main dan sendagurau belaka dan sungguh kampung akhirat itu tebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa.” D sini justru ada isyarat bahwa sikap ideal kaum bertaqwa adalah mengangap bahwa dunia hanyalah permasalahan remeh, sedang akhirat itu adalah yang terbaik bagi mereka.

Dalam QS. Al-Anfal : 67 Allah berfirman: “Kamu menginginkan kebendaan duniawi sementara Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu).” Dengan logika sederhana saja kita dapat menyimpulkan manakah yang leih tinggi nilainya. Apakah kebahagiaan akhirat yang d kehendaki oleh Allah Sang Maha Mulia bagi yang selalu d impikan oleh manusia yang banyak salah dan lupa. Tetulah apa yang d kehendaki Allah itu lebih mulia nilainya. Juga d ayat lain Allah menerangkan hakikat dunia, yaitu firmannya dalam QS. Ali ‘Imran : 185 “Kehidupan dunia itu tiada lain hanyalah kesenangan yang menipu.” Ini adalah hakekat yang sebenarnya. Allah sendiri telah menyebutkan kecendrungan hamba-Nya ini dan sekaligus menegurnya dalam QS. Al Lail : 16-17 firman-Nya: “Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan duniawi. Padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” Jika Allah sendiri telah menyebutkan keutamaan akhirat d banding dunia, maka pantaskah kita mensejajarkan keduanya tanpa memberikan perhatian lebih bagi yang lebih utama. Ayat mengenai hakikat keutamaan akhirat sangatlah banyak. Kadang Allah menyebutnya sebagai kehidupan yang sebenarnya, yang abadi, atau yang lebih baik dan lebih kekal. Sementara dunia Allah sebut sebagai fitnah (ujian), perbekalan yang sedikit, kenikmatan yang menipu, atau hanya seperti permainan dan senda gurau. Semua ayat itu menjelaskan dengan lugas betapa mulianya urusan akhirat dan betapa kecilnya masalah dunia ini jika d bandingkan dengannya. Tentuny, sangat logis jika d katakan bahwa dalam menyikapi dua hal yang berbeda harus ada perlakuan yang berbeda pula. Sungguh tepat jika dalam memandang dua hal ini seseorang bersikap seimbang. Tentu seimbang artinya proporsional. Dan itu tak berarti harus selalu menyamakan segala hal. Justru seharusnya memberikan hak segala sesuatu itu secara tepat dan sesuai dengan kadar yang d butuhkan. Jadi dalam hal ini bersikap setimbang, memukul rata tanpa memberi perhatian lebih kepada yang berhak mendapatkannya. Itu justru merupakan sikap tidak proporsional. Wallahu a`lam bishshawab.

Maroji: Buletin Dakwah al Islam Edisi: 242 Th. VII dengan sedikit perubahan dan tambahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s