Shalat Jum’at Bagi Kaum Wanita

SHALAT JUM’AT BAGI KAUM WANITA.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Allah Ta`ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman apabila telah dikumandangkan (adzan) untuk melaksanakan shalat jumu’ah, maka bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS. Al-Jumu’ah : 9]

Hari Jum’at adalah hari besar bagi kaum muslimin. Pada hari itu kaum muslimin berkumpul d masjid-masjid setiap pekannya untuk melaksanakan suatu perintah Allah Ta’ala yaitu melaksanakan shalat jum’at secara berjama’ah. Pada hari jum`at Allah Ta’ala menetapkan berbagai peristiwa penting mulai tentang awal mula penciptaan alam semesta sampai tentang rentetan kisah penciptaan Adam ‘alaihis sallam hingga d keluarkannya dia dari surga. Dan pada hari ini Allah letakkan berbagai fadhilah termasuk hari mustajabnya doa adalah pada hari ini, sebagaimana yang banyak d kabarkan oleh banyak hadits shahih.

`
HUKUM ASAL SHALAT JUM’AT.

Kewajiban shalat Jum’at adalah fardhu ‘ain. Seperti yang d sebutkan Ibnu Al-`araby: Bahwa hukum shalat jum’at adalah fardhu ‘ain secara Ijma’ ummat.

Ibnu Qudamah juga berkata dalam kitabnya Al-Mughny: “Seluruh kaum muslimin telah bersepakat atas kewajiban shalat jum’at. Para Imam Mujtahid yang empat juga telah bersepakat bahwa shalat jum’at hukumnya adalah fardhu `ain”.

`
HUKUM SHALAT JUM’AT BAGI WANITA.

Perlu d ketahui bahwa khithab (kanteks) ayat d atas (QS. Al-Jumu’ah : 9) ‘ya ayyuhalladziina aamanu’ adalah khithab yang menunjukan bagi para mukallaf (kaum muslimin yang sudah baligh), namun tidak termasuk d dalamny ‘ashhaabul a`dzaar’ (orang-orang yang mendapatkan udzur untuk tidak melaksanakan) yaitu orang yang sakit, orang yang cacat, musafir, budak, dan wanita. Bahkan Madzhab Hanafiyah memasukan d dalam ashhaabul a’dzaar orang yang buta dan orang tua yang sudah tidak dapat berjalan, kecuali dengan adanya penunjuk jalan (yang mengantarkannya ke masjid).

Sedangkan golongan yang termasuk mukallaf, telah d terangkan oleh Ibnu Rusdy Al-Qurthuby dalam kitabnya “Bidayatul Mujtahid” bahwa syarat wajib shalat ada empat, dua syarat telah disepakati yaitu laki2 dan sehat, maka tidak d wajibkan bagi wanita dan orang yang sakit untuk melaksanakannya (menurut kesepakatan ulama’) akan tetapi jika keduanya datang mengikuti shala jum’at maka tergolong Ahli Jumu’ah. Sedangkan yang dua lagi yaitu musafir dan budak, mereka d perselisihkan dan jumhur ulama pun tidak mewajibkannya, kecuali Abu Dawud dan pengikutnya saja yang mewajibkan.

Dengan demikian maka tidak benar secara mutlak pendapat yang mengatakan bahwa khithab pada ayat d atas mewajibkan semua orang untuk melaksanakan shalat jum’at, karena ada riwayat hadits yang mengkhususkannya, yaitu hadits yang d riwayatkan dari Thariq bin Syihab artiny: “Dari Abbas bin Abdul Adhim, dari Ishaq bin Manshur, dari Huraim, dari Ibrahim bin Muhammad bin Al-Muntasyir, dari Qois bin Muslim, dari Thariq bin Syihab, dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda: “Shalat Jum’at itu d wajibkan bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat orang, yaitu hamba sahaya, wanita, anak kecil dan orang yang sakit.” [HR. Abu Daud, beliau berkata bahwa Thariq bin Syihab bertemu dgn Nabi Shallallahu’alaihi wasallam namun tidak mendengarnya dari Nabi secara langsung]
Hadits ini d shahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul jami dan dalam kitab Irwa’ul Ghalil, beliau berkata: berkata Imam An-Nawawi dalam Al-Khulashah bahwa hadits ini tidak rusak k shahihannya dan hadits shahaby dapat d jadikan hujjah. Hadits ini d nyatakan Shahih atas syarat Syaikhani. [Imam Al-Bukhari dan Muslim]

`
PERBEDAAN PENDAPAT TENTAOG WANITA MENGHADIRI SHALAT JUM’AT.

Telah d sebutkan d muka bahwa Ulama’ Salaf telah bersepakat atas tidak wajibnya shalat jum’at bagi wanita, namun para ulama’ fiqh berada pendapat dalam hal hadirnya wanita ke masjid untuk melaksanakan shalat jum’at, pendapat tersebut d antaranya:

* Pendpat Madzab Hanafi: Yang utama bagi kaum wanita adalah melaksanakan shalat zhuhur d rumahnya, baik tua maupun muda, karena pada hakekatnya jama’ah itu tidak d syari’atkan bagi mereka.

* Pendapat Madzab Syafi’i : Di makhruhkan bagi kaum wanita untuk mendatangi shalat jama’ah secara mutlak, baik shalat jum’at maupun selainnya, jika dapat merangsang syahwat walaupun memakai pakaian yang tebal dan juga pakaian yang tidak merangsang apabila dengan berhias dan memakai wangi-wangian. Sementara untuk wanita tua yang keluar dengan pakaian tebal dan tidak memakai wangi-wangian yang tidak ‘mengundang’ laki2 maka yang demikian syah baginya mendatangi shalat jum’at dan tidak d makruhkan dengan syarat memenuhi dua hal:

1. Mendapat izin dari walinya (baik itu gadis taupun tua), jika tidak d izinkan maka haram baginya.
2. Kepergiannya tidak d khawatirkan akan menimbulkan fitnah, jika kedatangannya mendtangkan fitnah maka d haramkan baginya pergi.

Demikianlah kiranya pembahasan mengenai hukum shalat Jum’at dan mendatanginya bagi kaum wanita muslimah. Wallahu a’lam bishshowab.

One thought on “Shalat Jum’at Bagi Kaum Wanita”

  1. Bismillah..
    * KESIMPULAN *

    1. Hukum asal shalt jum’at adalah fardhu ‘ain menurut
    2. Bahwa khithab dalam surat Al-Jumu’ah : 9 ‘ya ayyuhalladziina aamanu’ adalah untuk mukallaf (laki2, baligh, berakal, mampu) dan bukan untuk ashaabul a’dzaar (wanita, anak kecil, orang sakit dan budak belian).
    3. Para Ulama’ bersepakat bahwa kaum wanita tidak wajib melaksanakan shalat jum’at.
    4. Para Ulama’ berbeda pendapat mengenai hadirnya (kedatangan) kaum wanita pada waktu shalat jum’at k masjid.
    5. Bahwa kaum wanita lebih afdhol (utama) untuk shalat d rumahnya sebagaimana tersebut d rumahny, sebagaimana tersebut dalam hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam: “Sebaik2 masjid bagi kaum wanita adalah bagian dalam rumahnya.” [HR. Abu Daud dan Ahmad dari Ibnu Umar]
    Meskipun beliau shallallahu’alaìhi wasallam melarang untuk mencegah kaum wanita ke masjid (jika mendatangkan fitnah) namun beliau juga bersabda: “Janganlah x an mencegah kaum wanita untuk ke masjid dan hendaklah mereka keluar tanpa berhias (mengenakan wewangian).” [HR. Abu Daud Dan Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu] wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s