PERINGATAN TERHADAP SEORANG ISTRI YANG MEMINTA CERAI

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dari Tsauban radhiyallahu`anhu,. Brsabda Rasulullah Shallallahu`alaihi wa sallam: “Seorang wanita yang apapun keadaannya meminta cerai kepada suaminya tanpa sutu alasan apapun. Maka haram baginya bau surga.”
[Isnad Hadits tersebut Shahih. HR. Abu Dawud (2226), Tirmidzi (1198) dan dia berkata: “Ini Hadits Hasan”, Ibnu Majah (2055), Ahmad (5/277, 283), Ad-Darimi (2/162), dari beberapa jalan yang bersumber dari Ayyub dari Abu Qalabah dari Abu Asma’ dari Tsauban.]

Saudariku muslimah.
Inilah wasiat yang mahal dari Rasulullah Shallallahu`alaihi wa sallam kepada stiap wanita yang briman kpada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai Agama & Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-Nya.

Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam memperingatkan wanita muslimah agar tidak jatuh d dalam dosa yang besar ini.

Yang namanya kehidupan suami-istri mau tidak mau harus d bangun d atas landasan cinta kasih yang tulus serta d atas landasan cinta yang benar, sebab selama kehidupan suami-istri tersebut berdiri k atas perasaan2 yang mulia seperti itu, maka selamanya akan menjadi baik dan berkah bagi pelaku-pelakunya. Sebab perkawinan itu merupakan ikatan yang suci, yang d bangun d atas nilai2 ruhani & kasih sayang yang tinggi (luhur), dan hal itu merupakan ibarat persekutuan (kerjasama) antara dua orang d dalam keutuhan semua urusan kehidupan.

Akad (ikatan perjanjian) pernikahaan d dalam Islam yaitu akad untuk hidup abadi dan selamanya, kecuali Allah menghendaki suatu perkara yang d perbuat.

Dan atas dasar semua itu maka hubungan antara suami istri adalah merupakan hubungan yang paling suci dan kokoh.
Dalilny adalah :

Telah berfirman Allah Azza wa`Jalla: “Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” [QS. An-Nisaa`: 21]

Agama Islam yang Hanif memperhatikan secara sempurna terhadap hak-hak istri satu sama lain dan inilah secara global hak-hak wanita terhadap suaminya:

1] Seorang istri berhak mendapatkan infaq (nafakah) dari suaminya, dengan menurut keadaan suaminya baik dalam keadaan mudah ataupun dalam keadaan sulit dan nafakah tersebut tercakup sebagai berikut: makan, minum, pakaian, obat2an dan tempat tinggal. Hal demikian sesuai dengan firman Allah Azza wa`Jalla:

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang d sempitkan rezekiny hendaklah memberi nafkah dari harta yang d berikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya.” [QS. Ath-Thalaag : 7]

2] Hak tempat tidur. Maksudnya adalah untuk memperoleh senggama (bersetubuh)

3] Memperoleh perlindungan baik harga dirinya, hartanya, ataupun agamanya. Karna seseoran laki-laki sebagai suami bertanggung jawab terhadap istrinya. Teristimewa lagi memelihara istrinya dari setiap hal yang tidak d sukai dan bersifat buruk.

4] Memperoleh pngajaran atau pendidikan dari suaminya yang brsifat sangat perlu (mesti adany/wajib) mengenai urusan-urusan Agama. Apabila tidak mampu atau tidak sanggup seorang suami memberikan pengajaran atau didikan kepada istrinya yang d lakukan oleh dirinya sendiri, maka d izinkan bagi si istri untuk menghadiri majlis-majlis ilmu d tempat-tempat rumah Allah (Masjid), atau d sisi para wanita yang d hadapannya d ajarkan ilmu yang mereka itu adalah d antara putri-putri sejenisnya atau selain itu memperoleh pengajaran dari berbagai jalan (metode) k ilmu yang d bolehkan oleh syara’.

5] Berhak memperoleh pergaulan yang baik. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” [QS. An-Nisaa’: 19]

Dan demikian pula suami mempunyai hak-hak yang banyak terhadap istrinya, d antara hak-hak tersebut ialah:

1] Seorang istri hendaknya patuh kepada suaminya, menjauhi ucapan atau perbuatan yang menyakitkan suaminya, mengerjakan pekerjaan atas dasar ridha suaminya, sehingga dapat memasuki surga Rabb-nya.

2] D antara hak suami yang wajib atas istri ialah: Seorang istri hendaknya menjadi wanita yang shalehah yang ahli ‘ibadah, pandai menjaga dirinya ketika suaminya tidak ada d rumah, demikian pula menjaga harta suaminya serta terhadap rumah tempat tinggalnya.

3] D antara hak suaminya yang wajib d kerjakan oleh istri ialah: hendakny seorang istri takut (bertakwa) kpada Rabb-ny d dalam mempergunakan harta suaminy, cara mengambilny hendakny dengan hikmah, tidak berbuat boros dan mubadzir, serta tidak membebani suami-nya apa yang tidak d sanggupiny.

4] D antara hak lainny lagi yaitu: henakny seorang istri beradab (berbudi pekerti) dengan adab kesopanan agama yaitu hormat dan segan trhadap suami, sopan d dlm berbusana dan d dlm memakai perhiasan.

5] Seorang istri hendakny melakukan pengaturan semua urusan rumah tangga suami, srta berhidmat (patuh setia) atau layak kpada suami dgn sikap baik.

6] Apabila seorang istri tlah keluar dari kepatuhan trhadap Allah atau mengerjakan suatu yang tidak d sukai Allah, maka seorang suami berhak mendidiknya.

Semua hak yang telah d terapkan oleh Islam seperti trsebut d atas adalah u/dua belah pihak sehingga dapat berlangsung ikatan suami istri d dalam keadaan yang baik, serta berdasarkan kebaikan yang d tuju. Oleh sebab itu setiap urusan yang keadaannya melemahkan ikatan trsebut maka hal yang demikian itu telah d benci oleh islam.

Dengan demikian ketika engkau memikirkan wahai saudariku muslimah apa yang terkandung d dalam wasiat tersebut maka engkau akan mendapati bahwa wasiat trsebut memperingatkan terjadiny perceraian seperti itu dari suatu jalan yang membuat murka Allah.

Allahul musta`an.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s