Wasiat Kepada Para Wanita Ketika Berada Di Jalan

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dia berkata: “Rasulullah Shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah ada hak bagi para wanita berjalan di tengah jalan.” [Isnad hadits d atas adalah Hasan. HR. Ibnu Hibban d dalam Ash-Shahihny (7/447) d dalam sanadny terdapat Muslim Zanji seorang Faqih yang benar (shaduq), tapi banyak keraguan. Berkata Syeikh Albani rahimahullah: “Ini sanad yang baik (hasan) dgn keterangan sesudahny, telah d riwayatkan oleh Daulabi (1/45), serta oleh Baihaqi d dalam “Syi’bu Iimaan” (2/475/1) dari Harits bin Hikam dari Abu Amr bin Himas sebagai hadits marfu’ hany saja dia mengatakan: “Tempat jalan yang tertinggi”. Aku katakan: “Hadits ini mursal pada Ibnu Himas, Al Hafizd berkata: “Maqbul” (dapat d terima) sedangkan Harits bin Hikam haditsny d trjemahkan oleh Ibnu Abi Hatim d dlm “Al-Jarhu wat-Ta`dil” (1/2/73) dan menyebutkan adany ta`dil. (Al-Jarhu ialah mengkritik k aiban para perawi, sdang at-ta’dil ialah memuji akan k adilan para perawi d dasarkan ilmu mengenai hal ihwal para perawi -penerjemah-)
Hal itu d ingkari oleh Syaddad bin Abu Amr dgn ucapanny: (dia brkata): “Dari ayahny dari Hamyah Anshari dari ayahny bahwasanny dia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam brsabda, ketika itu beliau sdang keluar dari masjid, kemudian d dapatiny para laki2 brcampur dgn para wanita: “Ista’khirna, fainnahu laisa lakunna antuhaqqaqnath-thariiqa, ‘alaikunna bihaafaatith-thariiqi” (Berada d belakanglah kamu, d karenakan kamu semua tidak berhak memiliki jalan, engkau semua harus berada d pinggir2 jalan) HR. Abu Dawud (5272), Haitsam Ibnu Kulaib d dalam Musnadny (Q 190/10 akan tetapi Syaddad ini Majhul -tidak d ketahui) scara umum hadits trsebut Hasan dengan cara menghimpun dua jalan. wallahu A’laam]

Saudariku muslimah…
Islam menghendaki wanita muslimah supaya dia berada pada suatu k adaan yang paling baik, jauh dari kebimbangan, serta jauh dari tempat prasangka syubhat.

D dalam wasita Nabi ini kepada para wanita muslimah, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam memberikan wasiat kepada mreka agar berjalan d samping-samping jalan, bukan d tengah jalan.

Ketika seorang muslimah berjalan d tengah jalan, maka sesungguhny dia sudah pasti akan menampakkan diriny u/d pandang oleh kaum laki-laki, serta perjalanan akan sunyi dari kehebatan dan kemulyaan.

Adapun d kala dia berjalan d samping jalan yang jauh dari separuh jalan, maka sesungguhny dia akan mengurangi pandangan yang d arahkan kepada dia, dan dia dapat menjauhkan kebimbangan dari dalam diriny, sebab dia telah keluar untuk berjalan dalam sikap yang terhormat, yang jauh dari segala sesuatu yang mendatangkan pada dia berbagai syubhat.

Saudariku muslimah….
Bukanlah maksud yang sebenarny dari wasiat ini serta wasiat yang lain sebagaimana yang d duga oleh banyak muslimah yaitu untuk membatasi gerak dari pada wanita atau menyedikitkan keberadaanny, namun sesungguhny maksud yang sebenarny ialah mengatur suatu urusan wanita ketika sedang keluar dari rumah. Sebab asal mulany hendakny wanita itu tetap berada d rumahny dan memperhatikan semua urusan2ny, dia tidak akan keluar rumah kecuali untuk suatu keperluan (darurat), dan apabila dia mengerjakan pekerjaan maka sepatutny dia kerjakan pada batas atau daerah yang d bolehkan oleh syara’ yang hanif dari semua urusan yang d khususkan trhadap anak2 wanita sejenisny serta semisal mereka.

Adapun seorang wanita muslimah yang keluar rumah dengan berdandan dan selanjutny berjalan d tempat2 jalan berikut berbaur (bercampur) dengan kaum laki2 serta berkeinginan bekerja dan berusaha memperoleh rizki (kasab), maka hal ini adalah merupakan suatu urusan yang membutuhkan kepada pertimbangan yang panjang, d perhitungkanlah diriny, d manakah agamany yang telah rusak dgn berbicara bersama kaum laki2 mengenai sejumlah urusan yang tidak ada sangkut pautnya dgn hubungan kerja ? Bahkan d manakah pekerjaan yang sudah sepatutny bagi dia untuk berlomba meraihny yang d antarany dapat memberikan manfaat bagi anak2 kaum muslimin, atau terhadap putri2 semisal diriny. Sesungguhny seorang wanita mencukupi k butuhan diriny dari semua urusan duniany, akan tetapi dia tidak mengetahui (belum mengetahui) bahwa hal demikian itu sepatutny hendakny tidak terjadi kecuali pada batas suatu pekerjaan yang tidak menimbulkan marah dari Tuhanny serta tidak mendatangkan murka-Nya.

Maka wasiat Nabi ini terkandung d dalamnya peringatan terhadap para wanita agar mereka tidak berjalan d pertengahan jalan. Dan peringatan ini adalah berlaku pada waktu para wanita tidak keluar rumah kecuali untuk shalat atau untuk mendatangi semua keperluanny yang memang d butuhkan.

Maka bagimana halmu saudariku muslimah jikalau Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam melihat wanita hari ini, serta jikalau beliau melihat mereka bermain (bercanda) dengan kaum laki2 d tempat2 jalan dan bagaimana jikalau beliau melihat semua pekerjaan yang d kerjakan oleh wanita sekarang ini, maka apa yang akan beliau katakan ?????!!.
Nas-alullaha assalamah wal aafiah. Allahul musta`an.

[D salin dari Kitab 50 Washiyat Min Washayar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam Lin Nisa oleh Syeikh Muhammad Fathi Sayyid Ibrahim dengan sedikit tambahan]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s